Do Nothing: Refleksi Keputusan Besar Tanpa Gangguan

Must read

Oleh : Edhy Aruman

Ketika nilai manusia ditimbang layaknya mesin— diukur dari berapa target yang dikejar, karya yang dipamerkan, atau pencapaian yang diposting demi likes — ide untuk “tidak melakukan apa-apa” bisa terdengar absurd, bahkan memalukan.

Namun, Jenny Odell, dalam How to Do Nothing: Resisting the Attention Economy, justru menunjukkan bahwa inilah salah satu bentuk keberanian paling radikal yang bisa kita lakukan saat ini.

Melalui narasi yang kontemplatif, Odell menyampaikan bahwa “melakukan hal yang tidak produktif” adalah sebuah tindakan politik yang kuat, sebuah penolakan terhadap sistem kapitalisme digital yang mengejar perhatian kita setiap detik.

Tidak hanya itu, ia menyatakan bahwa waktu luang yang tidak terkomodifikasi adalah hak yang harus dipertahankan.

Istirahat bukanlah kelemahan. Dalam dunia kerja dan politik, banyak pemimpin besar justru mengandalkan jeda dan momen tidak-produktif sebagai sumber kebijaksanaan dan strategi.

Contohnya adalah Barack Obama, yang dikenal rutin meluangkan waktu untuk berjalan kaki sendirian saat menjabat sebagai Presiden AS.

Dalam momen kesendirian itu, ia merefleksikan keputusan-keputusan besar tanpa gangguan media atau staf—sebuah bentuk “tidak melakukan apa-apa” yang terstruktur dan bermakna.

Begitu pula dengan Bill Gates, pendiri Microsoft, yang memiliki ritual “Think Week”  sejak tahun 1980-an. Dua kali setahun, Gates menyepi selama satu minggu penuh di kabin pribadi, jauh dari pertemuan, email, dan internet. Ia membaca laporan, buku, dan catatan dengan satu tujuan: berpikir.

Dari waktu yang tampaknya “tidak produktif” itulah muncul berbagai ide besar, termasuk langkah awal menuju internet dan sistem pencarian yang kini digunakan jutaan orang.

Tokoh lain seperti Warren Buffett terkenal hanya menghabiskan 20% waktunya untuk pertemuan dan sisanya untuk membaca dan merenung. Ia menyebut bahwa kemampuan terbesarnya sebagai investor bukanlah kecepatan bertindak, tetapi kesabaran dan waktu untuk berpikir.

Odell menjelaskan bahwa “tidak melakukan apa-apa” bukan berarti kita tidak berguna, melainkan kita menolak standar nilai yang sempit. Ini adalah momen untuk melihat, mendengar, dan merasakan dunia sebagaimana adanya—bukan sebagai sesuatu yang harus dioptimalkan.

Ia mencontohkan seekor burung kuntul malam yang bertengger di atas restoran cepat saji. Burung itu tidak memiliki agenda, tidak berkontribusi pada PDB, tetapi kehadirannya menimbulkan rasa tenang, keheranan, dan keterhubungan. Odell mengajak pembaca untuk menjadi seperti burung itu—hadir, diam, tetapi bermakna.

Tiran Produktivitas

Dalam dunia kerja modern, kita diajak untuk melihat diri sendiri sebagai merek, menjual diri melalui LinkedIn, Instagram, atau TikTok. Tapi akibatnya, ruang untuk kesunyian dan kontemplasi makin menyempit. Konsep “personal branding” membuat banyak dari kita tidak lagi mengenal siapa diri sendiri di luar peran profesional.

Politisi visioner seperti Angela Merkel dikenal karena “slow leadership”  yang berbasis pada ketenangan dan pengamatan jangka panjang. Ia tidak pernah bereaksi tergesa-gesa terhadap krisis, melainkan merenung, membaca, dan berdialog dengan hati-hati.

Banyak pihak menyebut bahwa kekuatan Merkel bukan pada aksinya yang dramatis, tetapi pada ketekunan dalam mendengarkan dan berpikir jernih—praktik yang sangat langka di era kepemimpinan media sosial saat ini.

Dalam bisnis, CEO seperti Satya Nadella (Microsoft) atau Tim Cook (Apple) juga dikenal karena kedalaman perhatian mereka, bukan sekadar kecepatan eksekusi. Nadella sering berbicara tentang pentingnya empati, dan bahkan menyarankan karyawannya untuk “mendengarkan lebih dalam” sebagai bentuk produktivitas yang baru.

Intinya, “Melakukan hal yang tidak produktif” adalah cara untuk kembali menemukan siapa kita tanpa algoritma, metrik, atau citra profesional. Ini adalah ruang untuk membiarkan ide muncul tanpa paksaan. Ini adalah tindakan penuh perlawanan, terutama ketika dunia terus memaksa kita untuk berlari tanpa henti.

Odell menulis bahwa “tidak ada yang lebih sulit dilakukan daripada tidak melakukan apa-apa.” Tetapi justru dalam kesulitan itulah terdapat kekuatan yang menyembuhkan—dan sering kali, juga solusi untuk krisis kreatif, krisis identitas, dan bahkan krisis planet ini.

RUJUKAN

Odell, J. (2019). How to do nothing: Resisting the attention economy. Melville House.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article