Oleh : Edhy Aruman
Christa Schroeder bukan sekadar juru ketik di belakang meja. Ia adalah saksi mata terhadap sejarah tergelap abad ke-20.
Dia hidup begitu dekat dengan pusat kekuasaan Nazi, menyaksikan Adolf Hitler dari balik layar, tidak hanya sebagai diktator, tetapi juga sebagai manusia dengan segala keanehan, ketakutan, dan kesendiriannya.
Memoarnya, He Was My Chief, bukan hanya catatan kerja seorang sekretaris; ia adalah jendela langka ke dalam kehidupan pribadi Hitler, yang selama ini tertutup oleh propaganda, kekejaman, dan mitos.
Semua berawal dari iklan kecil di surat kabar. Schroeder, saat itu perempuan muda biasa, melamar pekerjaan tanpa tahu bahwa ia akan menjadi sekretaris pribadi orang yang akan mengguncang dunia.
Dari tahun 1933 hingga kematiannya pada 1945, ia mengetik pidato, menjadwalkan pertemuan, mendengar amarah dan canda, serta menyaksikan kehancuran moral dan fisik orang yang ia layani.
Dalam ruang-ruang sunyi di markas Nazi, Schroeder melihat sisi Hitler yang jarang terungkap: perfeksionis dalam disiplin waktu, fanatik akan kerahasiaan, dan semakin bergantung pada obat-obatan.
Ia mencatat bagaimana sang Führer menolak menyentuh uang tunai karena jijik, tidak pernah memakai jam tangan di pergelangan, dan menyimpan arlojinya longgar di dalam saku.
Bahkan dalam masa-masa genting, ia akan selalu datang tepat waktu untuk pertemuan harian. Ia tidak pernah menulis surat pribadi karena khawatir akan bocor, bahkan kepada teman terdekatnya.
Namun, kesan profesionalisme itu dibarengi dengan kehancuran yang pelan-pelan merayap ke dalam dirinya.
Schroeder melihat langsung bagaimana Hitler menjadi semakin bergantung pada suntikan dan pil dari Dr. Morell, dokternya.
Obat-obat itu ternyata mengandung racun kuat yang mungkin menyebabkan tremor di tangan kirinya dan masalah penglihatan yang makin parah menjelang akhir hidupnya.
Ironis, seorang pria yang begitu obsesif akan kontrol, akhirnya dikendalikan oleh substansi kimia yang membuat pikirannya tumpul di saat ia paling membutuhkan kejernihan.
Dalam interaksinya sehari-hari, Hitler tampak bersahabat, bahkan lucu.
Ia suka menirukan cara mengetik dengan satu jari, menyindir rekan-rekannya sambil memanggil Schroeder dan kolega-koleganya sebagai “ratu mesin tik sejati.”
Ia mengolok-olok dirinya sendiri dengan bercanda tentang kumisnya yang lebat: “Hidung saya terlalu besar. Saya butuh kumis untuk menyamarkan itu!”
Tapi di balik humor itu, ada seorang pria yang emosional, cepat tersinggung, dan tak kenal kompromi.
Pernah sekali Schroeder mengoreksi Hitler terlalu sering dalam satu minggu. Akibatnya, ia diabaikan selama beberapa bulan penuh.
Salah satu tokoh yang sering muncul dalam kisah Schroeder adalah Martin Bormann. Ia menggambarkan Bormann sebagai figur yang bersih dari suap, sangat disiplin, dan kejam dalam menegakkan perintah Hitler.
Namun, karena sering menjadi penghalang antara Hitler dan para Gauleiter (pemimpin wilayah Nazi), banyak yang mengira Bormann haus kekuasaan.
Padahal, Schroeder menyebut ia hanya menjalankan perintah dengan efisiensi yang ekstrem—sesuatu yang justru dihargai tinggi oleh Hitler. “Apa yang orang lain selesaikan dalam sehari, Bormann bisa selesaikan dalam dua jam,” puji Hitler suatu ketika.
Salah satu momen yang paling mengguncang Schroeder adalah ketika ia dengan berani bertanya kepada Hitler di akhir 1944, saat pesawat Sekutu mulai memenuhi langit Jerman: “Apakah Anda percaya kita masih bisa memenangkan perang?”
Hitler menatapnya dan menjawab singkat, “Kita harus.”
Rekan Schroeder, Gerda Daranowski, mengatakan bahwa ia berharap tanah terbelah karena takut dengan keberanian pertanyaan itu.
Memoar Schroeder juga menyuguhkan potret hubungan pribadi Hitler yang kompleks. Ia menyebut bahwa cinta sejati Hitler adalah Geli Raubal, keponakannya yang bunuh diri dalam kondisi misterius.
Tragedi itu meninggalkan bekas mendalam pada Hitler dan diyakini sebagai alasan ia menjadi vegetarian. Ia mengutip binatang-binatang besar pemakan tumbuhan sebagai argumen, tapi sebenarnya, larangan makan dagingnya lebih bersifat emosional.
Eva Braun, pasangan resminya, hanyalah bayangan dari masa lalu itu—sering kali cemburu, dan melakukan aksi dramatis seperti pura-pura ingin bunuh diri agar mendapatkan perhatian.
Aneka kisah ringan dan jenaka juga memberi warna dalam memoar ini.
Saat kampanye militer di Rusia, Schroeder kehilangan senter.
Hitler bercanda, “Saya pencuri tanah, bukan pencuri lampu. Untuk barang kecil mereka akan menggantungmu, tapi untuk yang besar mereka akan membiarkanmu pergi!”
Di meja makan, Hitler senang menceritakan kisah tentang Eva Braun yang boros lipstik, dan tentang gadis-gadis Paris yang mencelupkan lipstik di selokan. Cerita itu membuat Eva pura-pura muntah dan memohon agar cerita itu tidak diulang lagi.
Schroeder juga mengungkap sisi rapuh Hitler, yakni ketidakmampuannya berbelanja sendiri di Berlin, sesuatu yang dulu ia nikmati bersama Geli. “Betapa indahnya dulu,” kata Hitler sambil mengenang, “Geli akan menyeretku ke toko topi hanya untuk mencoba, tak pernah membeli.”
Atau saat Schaub, ajudan setianya, berbisik bahwa Hitler “membutuhkan teriakan seperti seorang artis butuh tepuk tangan” setelah kecewa tidak ada sorakan saat meninggalkan hotel.
Memoar ini tidak memuat pengakuan bersalah eksplisit. Tidak seperti Traudl Junge, sekretaris lain yang menyatakan “kami seharusnya tahu,” Schroeder lebih memilih nada datar, bahkan pahit.
Ia tidak mengklaim tahu soal Holocaust. Dia hanya menyebut satu percakapan panas antara Hitler dan seorang wanita yang menanyakan tentang deportasi Yahudi Amsterdam. Hitler membentak, “Apa pedulimu dengan nasib perempuan Yahudi? Rakyatku mati tiap hari, dan mereka tetap hidup!”
Setelah perang, Schroeder dipenjara selama tiga tahun sebagai “penjahat perang kelas satu.” Namun hingga akhir hayatnya pada 1985, ia tak pernah tahu apakah kesalahannya sebesar penderitaannya. “Apakah rasa bersalahku setara dengan penebusanku? Aku tidak tahu hingga hari ini,” tulisnya.
Yang membuat kisah Schroeder begitu menarik bukan hanya karena ia berada di tengah badai sejarah, tetapi karena ia menggambarkan bagaimana kekuasaan bisa terlihat begitu manusiawi dan biasa—hingga kita lupa betapa berbahayanya banalitas kejahatan itu.
Ia adalah potret tragis dari orang biasa dalam sistem yang luar biasa brutal. Memoarnya adalah pengingat bahwa sejarah besar bukan hanya ditulis oleh mereka yang memimpin, tapi juga oleh mereka yang memilih untuk tetap tinggal.
BAGAIMANA SCHROEDER MENULISKAN MEMOIRNYA?
Setelah kekalahan Jerman Nazi tahun 1945, Christa Schroeder ditangkap Sekutu dan ditahan selama hampir tiga tahun. Ia dianggap sebagai “penjahat perang tingkat satu”. Bukan karena terlibat langsung dalam kekejaman, tetapi karena posisinya yang sangat dekat dengan Hitler selama lebih dari satu dekade.
Namun, ia tidak pernah diadili secara resmi, dan akhirnya dibebaskan tanpa hukuman berat karena tidak ada bukti keterlibatan langsungnya dalam keputusan politik atau militer rezim Nazi.
Setelah bebas dari penahanan, Schroeder menjalani hidup yang relatif tenang dan tidak banyak tampil di depan publik. Ia tidak langsung menulis memoarnya.
Justru baru bertahun-tahun kemudian, pada awal 1980-an, ia mulai menyusun catatan hidupnya atas dorongan sejarawan dan peneliti Jerman yang tertarik akan kesaksiannya.
Ia dibantu oleh wartawan dan editor yang membantu menyusun naskah berdasarkan wawancara, catatan pribadi, dan memori yang ia simpan.
Memoarnya, berjudul “Er war mein Chef” (He Was My Chief), pertama kali diterbitkan dalam bahasa Jerman pada tahun 1985, tahun yang sama dengan kematiannya.
Ini menjadikan buku tersebut semacam “testimoni terakhir” dari seseorang yang menyaksikan langsung naik-turunnya Hitler dari ruang kerja yang sama.
Baru beberapa dekade kemudian buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, dan dikenal lebih luas sebagai salah satu primary source paling jujur dan unik dari era Nazi.
Jadi, bisa dikatakan: Schroeder menulis memoarnya sebagai saksi yang terlambat bicara—bukan dari balik penjara, melainkan setelah menjalani masa sunyi, dan mungkin perenungan panjang, tentang masa yang pernah ia habiskan di jantung kekuasaan paling kelam abad ke-20.

