Integritas: Etika Atau Instan

Must read

Oleh : Edhy Aruman

Di tengah tekanan untuk tampil sempurna, banyak orang tergoda memilih jalan pintas. Dan saat kepentingan pribadi bertabrakan dengan nilai-nilai moral integritas seseorang kerap diuji. Muncullah dilema antara benar secara etika atau menang secara instan.

Ada momen langka yang terjadi di turnamen Italia Masters di Roma, 5 Mei 2005. Bukan karena pukulan mematikan atau rally spektakuler yang bikin banyak orang tertegun, tapi karena satu kata: kejujuran.

Andy Roddick, petenis papan atas asal Amerika unggulan ketiga dunia saat itu, sedang unggul. Dia memimpin pertandingan dengan skor 7-6, 5-3, dan memiliki tiga match point saat Verdasco melakukan servis.

Pada salah satu match point tersebut, servis kedua Verdasco dinyatakan “out” oleh hakim garis, yang seharusnya mengakhiri pertandingan untuk kemenangan Roddick.

Penonton bersorak, dan Verdasco mulai berjalan ke arah net untuk menjabat tangan Roddick. Dia merasa pertandingan sudah selesai dan Roddick lah pemenangnya.

Tapi di situlah semua jadi luar biasa. Roddick tidak mengambil kemenangan itu begitu saja. Ia berjalan ke wasit dan menunjukkan bekas bola yang terlihat jelas menyentuh garis. “Bola itu masuk,” katanya. Dia membatalkan match point-nya sendiri.

Ia tahu ia bisa saja diam dan menang. 

Tapi ia memilih berkata jujur. Wasit pun membalikkan keputusan. Verdasco memanfaatkan kesempatan tersebut dan memenangkan pertandingan dengan skor 6-7(1), 7-6(3), 6-4 . Akhirnya Roddick kalah.

Tapi bagi banyak orang, di hari itu Roddick justru menang. Ia menang dalam hal yang jauh lebih besar dari sekadar gelar turnamen—ia menang dalam hal integritas. (NPR, 2005). Tindakannya menjadi contoh luar biasa dari integritas dan sportivitas dalam olahraga.

Yang dilakukan Roddick mengingatkan kita bahwa integritas bukan soal menjadi sempurna. Itu soal keberanian untuk tetap benar, bahkan saat yang salah tampak lebih menguntungkan.

Dalam hidup ini, kita sering dihadapkan pada pilihan: ingin menang , atau ingin benar ? Roddick memilih yang kedua. Dan itu, teman-teman, bukan pilihan yang mudah.

Cerita serupa datang dari dunia bisnis, dari seorang tokoh bernama Jon Huntsman Sr. Ia bukan hanya seorang pengusaha sukses. Dia juga filantropis ulung yang memulai dari bawah.

Huntsman adalah pendiri Huntsman Corporation, sebuah perusahaan kimia multinasional yang terkenal karena memproduksi lebih dari 30.000 produk yang digunakan dalam berbagai industri, dari otomotif hingga tekstil.

Tapi yang membuatnya istimewa bukan hanya bisnisnya—melainkan cara ia menjalankannya.

Suatu ketika, Huntsman menyetujui penjualan 40% saham divisi perusahaannya kepada Great Lakes Chemical hanya dengan jabat tangan, tanpa kontrak tertulis. Nilai kesepakatan itu: $54 juta.

Enam bulan kemudian, kondisi pasar berubah drastis. Nilai divisi itu melonjak menjadi $250 juta.

Mitra bisnisnya menawarkan revisi harga, setidaknya membayar separuh dari nilai barunya.

Tapi Huntsman menolak. Ia tetap pada kesepakatan awal. “Kita sudah berjabat tangan. Dan itu cukup,” katanya. Tidak banyak orang bisa menolak uang sebesar itu. Tapi Huntsman bisa—karena baginya, integritas tidak bisa dinegosiasikan (Knowledge at Wharton, 2005).

Di panggung politik. Anwar Sadat, Presiden Mesir, melakukan sesuatu yang mengejutkan dunia: ia terbang ke Israel, negara yang dulu menjadi musuh bebuyutan. Ia berdiri di depan parlemen Israel dan bicara soal perdamaian. Sebagian orang menyebutnya pengkhianat.

Tapi Sadat percaya, untuk menciptakan masa depan yang lebih baik, kadang kita harus berdiri sendirian. Ia tidak sekadar bicara soal damai; ia memperjuangkannya dengan seluruh harga diri dan nyawanya.

Dan dunia melihat itu. Ia menerima Nobel Perdamaian. 

Dari lapangan tenis, ruang rapat, sampai meja diplomasi, integritas selalu punya suara. Kadang pelan, kadang keras. Tapi ia selalu hadir di tengah pilihan-pilihan sulit. Ia tidak butuh sorotan. Ia hanya butuh satu hal: komitmen. Komitmen untuk jujur, untuk setia pada prinsip, dan untuk tetap benar meski sunyi.

Dalam hidup kita, mungkin tidak ada kamera atau penonton. Tapi setiap keputusan kecil yang kita ambil menciptakan cerita kita sendiri. Seperti kata Gandhi, “Hidup saya adalah pesan saya.” Maka mari kita pastikan pesan itu adalah sesuatu yang layak untuk dikenang.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article