Oleh : Edhy Aruman
Di antara tokoh-tokoh perempuan dalam mitologi Yunani, nama Eriphyle mungkin tidak sepopuler Helena atau Medea. tetapi kisahnya menyimpan luka yang tak kalah dalam.
Eriphyle bukan ratu besar, bukan penyihir ulung, bukan juga dewi. Ia adalah manusia biasa, istri dari seorang pahlawan bernama Amphiaraus, dan ibu dari Alcmaeon.
Tapi justru dalam kebiasaannya sebagai manusia biasa itulah ia membuat pilihan luar biasa—dan tragis. Ia menjual suaminya demi seuntai kalung. Dan dengan itu, ia tak hanya mengukir pengkhianatan, tapi juga menjadi simbol abadi tentang betapa rapuhnya ikatan ketika cinta diperdagangkan.
Eriphyle lahir dari garis bangsawan: putri Talaus dan saudari Adrastus, raja Argos. Dalam pernikahannya dengan Amphiaraus, seorang peramal yang bisa melihat masa depan, ia seharusnya menjadi pendamping dalam kebajikan dan kebijaksanaan. Tapi takdir memilih jalan yang lebih kelam.
Ketika ketegangan memuncak dan perang melawan Thebes akan dimulai, Amphiaraus menolak ikut serta. Ia tahu, dengan kepastian seorang pelihat, bahwa langkah ke medan tempur itu adalah langkah menuju kematiannya. Namun, sebuah sumpah lama mengikatnya: jika ada perbedaan pendapat, keputusan akhir berada di tangan Eriphyle.
Di sinilah tragedi itu bertunas.
Argia, istri Polynices—salah satu panglima perang—datang membawa hadiah: kalung Harmonia. Kalung ini bukan sembarang perhiasan. Ia adalah pusaka tua, pemberian para dewa kepada Harmonia saat menikah dengan Cadmus, penuh pesona dan kutukan.
Barang indah itu kini berpindah tangan, menyilaukan mata Eriphyle dengan janji kekuasaan dan kemewahan.
Ia menerimanya. Dan dengan itu, ia membujuk—atau lebih tepatnya, memaksa—Amphiaraus untuk maju ke perang yang dia tahu bahwa itu akan membunuhnya.
Statius, dalam Thebaid, menuliskan kisah ini dengan nada getir dan penuh ironi. Kalung yang seharusnya menjadi simbol cinta dan pernikahan, berubah menjadi dona nocentia —“hadiah yang membawa malapetaka.”
Thebaid adalah sebuah puisi epik Latin yang ditulis oleh penyair Romawi, Publius Papinius Statius, pada akhir abad pertama Masehi, di masa kekuasaan kaisar Domitian. Karya ini terdiri dari dua belas buku dan berkisah tentang perang saudara antara Eteokles dan Polynices, dua putra Oedipus, yang memperebutkan takhta Thebes.
Konflik ini dikenal dalam tradisi mitologis Yunani sebagai perang “Tujuh Melawan Thebes.”
Eriphyle sendiri digambarkan sebagai perfida coniunx, istri tak setia yang “rela menukar suaminya dengan hadiah” (dona viro mutare velit).
Dalam satu keputusan, ia tidak hanya mengkhianati cinta, tetapi juga menginjak-injak nilai luhur resiprositas yang menjadi fondasi masyarakat bangsawan: bahwa hadiah adalah pengikat kasih, bukan alat tukar nyawa.
Bahkan dari dunia bawah, arwah Amphiaraus berteriak—bukan karena ia mati sebagai prajurit, tapi karena ia telah “dijual demi emas yang tak adil” (iniquo venditus auro) oleh orang yang seharusnya mencintainya tanpa syarat. Kalung itu telah menukar kepercayaan dengan ketamakan, cinta dengan transaksi, kesetiaan dengan kilauan gemerlap.
Dan dalam satu dongeng pendek nan mengiris ini, Statius memperlihatkan wajah gelap dunia. Bahwa ketika segala sesuatu bisa dipertukarkan — bahkan cinta dan kehidupan manusia — maka runtuhlah batas antara hadiah dan suap, antara pernikahan dan perdagangan, antara kemanusiaan dan kerakusan.
Eriphyle bukan sekadar pengkhianat. Ia adalah cermin dari sebuah dunia yang telah memuja emas melebihi nurani.
Kisah Eriphyle dan kalung Harmonia bukan sekadar catatan mitologis yang mengisahkan pengkhianatan seorang istri terhadap suaminya. Ia adalah alegori tajam tentang keruntuhan nilai ketika dunia memandang segala sesuatu sebagai barang tukar.
Dalam tangan Statius, tragedi ini berubah menjadi cermin gelap yang memantulkan bahaya dari ideologi pertukaran yang menyimpang: saat hadiah kehilangan makna kasih dan menjadi alat transaksi, saat cinta tunduk pada logika emas, maka tidak ada lagi tempat aman bagi kepercayaan dan kemanusiaan.
Eriphyle, dengan segala kesalahannya, bukan hanya pelaku, tapi juga simbol. Ia menunjukkan bagaimana individu bisa menjadi bagian dari kehancuran moral yang lebih besar, bukan semata karena niat jahat, tetapi karena tunduk pada sistem nilai yang telah melenceng.
Ia adalah potret dari dunia yang tak lagi membedakan antara pemberian tulus dan suap, antara ikatan sosial dan komodifikasi relasi.
Thebaid mengingatkan kita bahwa tragedi terbesar bukanlah perang atau kematian, melainkan saat ikatan manusia—keluarga, persahabatan, cinta—menjadi mata uang yang bisa ditukar.
Dan kalung Harmonia, yang bersinar indah di luar namun membawa kutukan di dalam, menjadi lambang abadi dari dunia yang telah kehilangan batas antara harga dan nilai.

