JAKARTA || Marva Collins bukan dilahirkan sebagai pahlawan. Ia bukan bagian dari elite akademik atau reformis pendidikan berseragam rapi yang duduk di balik meja kebijakan.
Ia hanyalah seorang guru sekolah dasar di Chicago, yang setiap hari menyaksikan mimpi anak-anak kecil dihancurkan—bukan oleh kegagalan mereka, tetapi oleh sistem yang tak peduli.
Selama enam belas tahun, Marva mengajar di sekolah negeri. Ia mendapati anak-anak dengan mata penuh pertanyaan, tetapi tidak pernah diberi ruang untuk menjawab. Anak-anak yang penuh energi, tapi dijuluki “tidak bisa diatur.”
Mereka bukan tidak bisa belajar. Mereka hanya tidak pernah diberi kesempatan. Tidak pernah benar-benar didengarkan.
Suatu hari, Marva pulang ke rumah dengan hati penuh kemarahan. Bukan kemarahan pada anak-anak, tapi pada dunia yang tidak percaya bahwa mereka bisa. Dunia yang menyerah pada mereka sebelum mereka sempat mencoba.
Malam itu, ia membuat keputusan yang akan mengubah sejarah kecil dunia pendidikan: ia akan berhenti dari sistem yang tak berpihak, dan membangun sekolahnya sendiri dari nol.
Ia berbicara kepada suaminya, Clarence, tentang rencana itu. Tentang hasratnya, kegelisahannya, ketakutannya. Ia tahu, ini bukan hal yang mudah. Tapi ia juga tahu, jika ia tidak bertindak, tak ada yang akan bertindak.
Bersama, mereka sepakat untuk mengubah lantai atas rumah mereka menjadi ruang kelas satu kamar. Ia menggunakan seluruh tabungan pensiunnya—$5.000—untuk membeli papan tulis, buku bekas, meja kecil, dan harapan.
Westside Preparatory School resmi berdiri pada tahun 1975. Tak ada pendanaan pemerintah, tak ada akreditasi formal. Hanya ada semangat seorang guru dan kepercayaan bahwa setiap anak bisa belajar jika diberi cinta dan disiplin.
Hari pertama, hanya ada segelintir murid. Dan sebagian besar dari mereka datang dengan label: anak bermasalah, sulit belajar, tak bisa ditolong. Tapi Marva melihat sesuatu yang lain. Ia melihat benih. Dan ia bersumpah untuk menjadi tanah tempat benih itu tumbuh.
Di ruang sempit itulah, sesuatu yang besar terjadi. Ia tidak memberi mereka pelajaran biasa. Ia memberi mereka Shakespeare, Plato, puisi Maya Angelou. Ia berbicara pada mereka seolah-olah mereka pemimpin masa depan. Ia menanamkan rasa hormat kepada diri sendiri, kerja keras, dan kedisiplinan. Ia mengajar bukan dengan buku teks, tetapi dengan cinta yang tanpa syarat.
Seorang murid bernama Erica datang saat berusia enam tahun. Orang-orang berkata bahwa Erica “terbelakang”, “tidak akan pernah bisa membaca.” Tapi Marva tak tergoyahkan. Ia memeluk Erica bukan secara fisik, tapi dengan keyakinan. Ia berkata, “Kau akan membaca. Bukan karena aku berharap begitu, tapi karena aku tahu.”
Tahun berganti, dan layar televisi menampilkan momen luar biasa. CBS menayangkan 60 Minutes yang memperlihatkan Erica—sekarang sudah dewasa—berdiri dengan toga, lulus dari Norfolk State University. Anak yang dulu disebut tak bisa belajar kini menjadi bukti bahwa cinta dan keyakinan bisa menumbangkan takdir (CBS News, 1991).
Presiden Ronald Reagan menawarkan Marva jabatan sebagai Menteri Pendidikan. Tapi ia menolak. Ia tidak ingin duduk di kantor. Ia ingin tetap di kelas. Ia percaya revolusi sejati terjadi dalam sunyi, ketika satu anak diajak untuk mempercayai dirinya sendiri. Marva menanam benih epistemological curiosity.
Freire menyebut epistemological curiosity sebagai bentuk paling dalam dari pembelajaran: rasa ingin tahu yang tidak berhenti pada fakta, tetapi mendorong seseorang untuk memahami dunia, mempertanyakannya, bahkan menantangnya.
Ini bukan sekadar keingintahuan anak-anak, tapi energi untuk menjadi manusia yang sadar akan hak, nilai, dan potensi.
Dalam ruang kelas Marva, rasa ingin tahu itu tidak hanya dihidupkan, tapi dijaga dan dikuatkan setiap hari—karena ia tahu, begitu anak-anak mulai bertanya dengan benar, mereka telah mengambil kembali kendali atas hidup mereka.
Namun, bagaimana proses rasa ingin tahu ini bekerja dalam ranah pendidikan yang nyata? Di sinilah Benjamin Bloom memberikan peta: Taksonomi Domain Kognitif. Ini bukan teori dingin tentang berpikir, tetapi kerangka indah tentang bagaimana manusia bisa tumbuh melalui belajar.
Anak-anak Marva mulai dari pengetahuan: mengenali huruf, menyimpan kata-kata. Lalu mereka naik ke pemahaman: mengubah kata menjadi kalimat, kalimat menjadi makna. Mereka mulai menerapkan—tidak hanya menjawab soal, tapi menjawab tantangan hidup.
Mereka belajar menganalisis, membedakan apa yang benar, apa yang manipulatif. Mereka menciptakan puisi, merancang pidato, menulis dengan gaya mereka sendiri—mereka menyusun, menyintesis. Dan akhirnya, mereka mengevaluasi: menilai diri sendiri, menilai ide-ide yang ditawarkan dunia, menilai masa depan yang mereka inginkan.
Di situlah belajar bukan lagi kewajiban, tetapi tindakan cinta. Karena cinta sejati tidak memanjakan, tetapi menantang. Tidak melindungi dari kesulitan, tetapi menguatkan dalam perjuangan.
Cinta dalam pendidikan adalah saat seorang guru percaya, bahkan ketika seluruh dunia tidak percaya. Saat seorang anak bertanya bukan karena ingin tahu “jawaban ujian, ” tapi ingin tahu mengapa hidup ini begini, dan bisakah ia membuatnya lebih baik?
Simon Sinek, penulis buku Start with Why: How Great Leaders Inspire Everyone to Take Action menyebut bahwa pemimpin hebat tidak mulai dari apa yang mereka lakukan, tapi dari mengapa. Wright bersaudara ingin manusia bisa terbang bukan demi prestise, tapi karena mereka percaya dunia akan berubah jika manusia bisa menembus langit.
Steve Jobs tidak ingin membuat komputer kecil, ia ingin memberdayakan individu untuk berpikir bebas. Itu semua berawal dari rasa ingin tahu yang mendalam: mengapa dunia harus tetap seperti ini, jika kita bisa membayangkan yang lebih baik?
Marva, Freire, Bloom, dan Sinek berbeda jalur—tapi satu suara: rasa ingin tahu bukan ancaman. Ia adalah nyala kehidupan. Ia adalah bukti bahwa manusia masih hidup, masih peduli, dan masih ingin tumbuh.
Dan di situlah pendidikan menemukan maknanya yang paling murni—bukan ketika semua soal bisa dijawab, tetapi ketika satu anak, di sudut ruang kelas kecil, bertanya dengan jujur: “Mengapa aku tidak boleh bermimpi setinggi langit?”
Edhy Aruman – Rempoa, 2 Mei 2025

