Kenangan Titiek Puspa: Panggung Terakhir dan Suara yang Tinggal Seperempat

Must read

Syuting acara Lapor Pak! yang menjadi panggung terakhir Titiek Puspa. (TransTv)

JAKARTA – Hari itu, 26 Maret 2025, studio Trans7 riuh oleh gelak tawa. Titiek Puspa, 87 tahun, duduk di tengah-tengah para komedian acara Lapor Pak!. Ia tertawa, sesekali menyanyi, dan tetap menjadi pusat perhatian seperti biasa—legenda yang tetap benderang meski usianya merangkak senja. Tak ada yang menyangka, itu adalah panggung terakhirnya.

Andre Taulany, salah satu pengisi acara, mengenang dengan haru. “Eyang Titiek menggenggam tangan saya erat di segmen terakhir. Waktu itu saya belum sadar, tapi sekarang saya tahu—beliau sedang menahan sakit,” tulisnya di Instagram, Jumat, 11 April 2025. Ia menyebut momen itu sebagai “kenangan saat-saat terakhir bersama almarhumah”.

Seusai syuting tiga episode, sekitar pukul delapan malam, Titiek Puspa pingsan. Tim produksi segera melarikannya ke UGD RS Medistra. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya pendarahan di otak sebelah kiri. Ia menjalani operasi kepala dan sempat membaik, sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir pada Kamis, 10 April 2025, pukul 16.25.

Putrinya, Petty Tunjungsari, menyebut hari-hari terakhir ibunya sebagai masa yang produktif dan penuh semangat. Dua hari sebelum pingsan, Titiek masih menghadiri acara bersama anak-anak panti asuhan. Beberapa hari sebelumnya, ia sempat menyanyi dalam syukuran Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono. Suaranya memang tak lagi lantang, tapi semangatnya tetap membara. “Suara saya tinggal seperempat, kok masih disuruh nyanyi,” ujarnya waktu itu, disambut tawa hangat para tamu.

SBY menyebut kehadiran Titiek Puspa malam itu sebagai penanda pentingnya seorang legenda. “Mbak Titiek bukan hanya legenda, tapi juga musisi lintas generasi,” katanya. Ia pun menempatkan Titiek sebagai “the most senior singer” dalam sejarah musik Indonesia.

Titiek Puspa, atau Sudarwati, telah mengukir sejarah sejak 1950-an. Ia bukan hanya penyanyi, tapi juga pencipta lagu, penulis, bahkan aktris. Puluhan lagu ciptaannya menjadi bagian dari memori kolektif bangsa: Kupu-Kupu Malam, Bing, Marilah Kemari, dan Apanya Dong adalah sebagian kecil dari warisan seninya.

Ia dimakamkan di TPU Tanah Kusir pada Jumat siang. Andre Taulany menulis, “Terima kasih, Eyang, telah memberikan karya-karya luar biasa untuk Indonesia. Selamat jalan, legend.”

Di layar kaca, tawa dan nyanyiannya mungkin sudah usai. Tapi di hati banyak orang, lagu Titiek Puspa masih bergema. (aih)

 

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article