HPN Sebuah Pesta Kebudayaan

Must read

Oleh : M. Sarwani
Sekretaris Panitia HPN 2025 Banjarmasin/Wakil Bendahara Umum PWI Pusat

Jakarta || Aku terjaga dari tidur mendengar telepon dan pesan dari aplikasi WhatsApp (WA) silih berganti masuk ke HP ku. Ku picingkan mata melihat layar HP, pukul 01.23 waktu Banjarmasin. Aku tidak melanjutkan membuka karena rasa kantuk yang begitu berat. Aku matikan volume suaranya dan melanjutkan tidur.

Sebelum subuh aku sudah terbangun. Terbetik di dalam hati ingin melihat siapa yang semalam menelepon dan mengirimkan pesan lewat WA. Tapi aku urungkan niat itu karena aku tidak mau kehilangan rutinitas pagiku, mandi sebelum subuh.

Usai shalat aku raih HP. Saat ku hidupkan, di layar terpampang hari dan tanggal, Kamis, 6 Februari 2025, 04.54 WITA. Aku masuk ke aplikasi WA, terlihat di layar sejumlah nomor tidak dikenal. Aku buka pesan yang masuk satu per satu. Aku tuliskan di sini pesan yang masuk dengan menyebutkan bukan nama sebenarnya untuk menghindari jeratan UU ITE.

“Selamat malam Pak Sarwani. Kami dengan Iptu A Dari Spri Bapak Kapolri”. Di WA tercatat waktunya 23.58 WIB atau 00.58 WITA.
Nomor lain yang tidak aku kenal juga mengirimkan pesan.

“Selamat pagi Pak Sarwani. Perkenalkan Kami dengan AKP B Dari Spripim Polri”. Waktu pengiriman pesan tercatat pukul 00.23 WIB atau 01.23 WITA.

Di luar itu, aku terima banyak WA lain dari ajudan, sekretaris pribadi, staf protokol, hingga bidang kehumasan dari sejumlah instansi yang menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan HPN di waktu berbeda.

Aku membalas satu per satu WA tersebut untuk memastikan informasi mengenai HPN 2025 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, sampai kepada pimpinan mereka.

Pertanyaan mereka tidak berhenti di situ. Di waktu berikutnya mereka bertanya lagi. Awalnya menanyakan masalah undangan untuk memastikan bahwa mereka memang diundang untuk hadir di acara tersebut, selanjutnya menelisik siapa saja yang akan hadir, hingga meminta konfirmasi mengenai kehadiran Presiden Prabowo Subianto di HPN.

Yang bikin repot bukan soal pertanyaannya saja, tapi jumlah orang yang bertanya. Dari satu petinggi yang sama bisa mencapai lima hingga enam orang. Masing-masing mengaku dari bagian protokol, spri, spripim, humas, ajudan, dan lain-lain.

Ternyata apa yang aku alami ini dialami juga oleh anggota panitia HPN yang lain. Di sela-sela rakor, peserta rapat menceritakan pengalamannya. Bagian akomodasi dan transportasi, misalnya, selain harus menjawab pertanyaan peserta dari luar daerah dan para tamu di mana mereka akan menginap, transportasi apa yang akan membawanya, juga harus menjemput kapan saja mereka sampai.
Bidang seminar pun pontang-panting menjawab pertanyaan para nara sumber yang digeser jadwalnya. Semua ini membutuhkan jawaban logis dan menyakinkan.

Aku sendiri merasa kewalahan meladeni pertanyaan dan telepon. Telat membalas WA, telepon berdering. “Maaf Pak, infonya ditunggu pimpinan.”

Jujur, capek melayani pertanyaan dan permintaan konfirmasi. Namun aku senang dibuatnya, karena hal ini menunjukkan antusiasme pimpinan di banyak instansi terhadap HPN sangat tinggi.

Dalam kondisi yang menurut orang luar PWI pecah, terbelah, dan ada dualisme, perhatian dan perhatian terhadap HPN tidak kendor. Perhelatan HPN tetap menarik minat para petinggi di negeri ini, selain, tentunya insan pers di seluruh Nusantara.

Ini harus menjadi catatan tersendiri bahwa HPN tidak terpengaruh oleh gejolak yang terjadi di tubuh PWI. Ketidakhadiran Presiden Prabowo Subianto tidak menyurutkan semangat anggota PWI dari 30 provinisi di Tanah Air, dari Sabang hingga Merauke, memadati tempat acara.

Kuatnya magnet HPN bisa jadi karena ia telah menjadi sebuah budaya di tengah masyarakat, tidak terbatas di kalangan pers saja, seperti didefiniskan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bahwa budaya adalah pikiran, akal budi, adat istiadat, dan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan sukar diubah.

Apalagi pada acara puncak ditampilkan tarian Limpuar dari pedalaman Kalimantan Selatan yang menceritakan tentang kegiatan bercocok tanam, tabuhan bedug oleh tokoh dan konstituen Dewan Pers dan paduan suara, menjadikan perayaan HPN 2025 sebuah pesta kebudayaan yang utuh.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article