BerandaBencanaDi Tengah Anggaran Rp70 Miliar Lebih, Warga Korban Banjir Aceh Timur Hanya...

Di Tengah Anggaran Rp70 Miliar Lebih, Warga Korban Banjir Aceh Timur Hanya Terima Segenggam Daging Meugang

Warga korban banjir setiap kepala keluarga hanya menerima jatah daging dalam hitungan ons. (Foto: Istimewa). 

ACEH TIMUR || Tradisi meugang yang seharusnya menjadi momen kebahagiaan menyambut Ramadan di Kabupaten Aceh Timur tahun ini terasa getir bagi banyak warga korban banjir. Bantuan 33 ekor lembu dari Presiden RI Prabowo Subianto yang disalurkan ke 25 gampong di Kecamatan Pante Bidari justru memunculkan ironi di lapangan: setiap kepala keluarga hanya menerima jatah daging dalam hitungan ons.

Program bantuan meugang yang disebut-sebut didukung anggaran lebih dari Rp70 miliar itu diharapkan menjadi penguat semangat warga pascabencana. Namun realitas pembagian di sejumlah desa menunjukkan kontras tajam antara besarnya nilai anggaran dan kecilnya porsi yang sampai ke tangan masyarakat.

Di Gampong Seuneubok Saboh, satu ekor lembu menghasilkan sekitar 40 kilogram daging untuk dibagi kepada 252 kepala keluarga. Artinya, tiap keluarga rata-rata hanya memperoleh sekitar 1,5 ons. Jumlah itu bahkan belum cukup untuk sekali masak bagi keluarga dengan banyak anggota.

“Alhamdulillah tetap kami syukuri. Walaupun sedikit, ini perhatian,” ujar Ridwan, Rabu (18/2/2026), dengan nada datar.

Situasi lebih mencolok terlihat di Gampong Pante Rambong. Dua ekor lembu bantuan hanya menghasilkan sekitar 80 kilogram daging untuk 650 kepala keluarga dengan total 2.129 jiwa. Jika dibagi merata, jatah per keluarga hanya sekitar 1 ons — nyaris tak terasa dalam wajan, apalagi di meja makan.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah desa setempat mengambil langkah darurat: menambah tiga ekor lembu dengan harga Rp23 juta per ekor melalui sistem utang. Pembayaran direncanakan menggunakan dana desa pada tahap berikutnya. Setelah total lima ekor dipotong, barulah pembagian bisa ditingkatkan menjadi sekitar setengah kilogram per kepala keluarga atau sekitar 1,5 ons per jiwa.

“Kami tidak tega kalau warga hanya kebagian sekadar simbol. Meugang ini tradisi, soal martabat dan kebersamaan,” ujar Aneuk Syuhada, sapaan akrab Zulkifli.

Kecamatan Pante Bidari sendiri merupakan salah satu wilayah paling parah terdampak banjir besar pada 26 November 2025. Ribuan rumah rusak, lahan pertanian hancur, dan banyak warga kehilangan sumber penghasilan. Hingga kini, pemulihan ekonomi belum sepenuhnya berjalan normal.

Di tengah luka pascabencana yang belum pulih, bantuan meugang seharusnya menjadi penguat rasa hadirnya negara. Namun ketika angka anggaran mencapai puluhan miliar rupiah, sementara warga hanya menerima segenggam daging, pertanyaan tentang ketepatan skema dan proporsi distribusi pun tak terhindarkan. (RB)

latest articles

explore more

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini