ISTANBUL | Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan perang antara Amerika Serikat–Israel dan Iran dapat diakhiri apabila Teheran menyetujui kesepakatan yang tengah dipertimbangkan. Di sisi lain, Iran menegaskan kesiapan berdialog dalam kerangka hukum internasional, namun menolak tunduk pada tekanan atau ancaman militer.
“Dengan asumsi Iran menyetujui apa yang telah disepakati, yang mungkin merupakan asumsi besar, maka ‘Epic Fury’ akan berakhir, dan blokade yang sangat efektif akan memungkinkan Selat Hormuz terbuka untuk semua, termasuk Iran,” ujar Trump melalui akun Truth Social, Rabu (6/5/2026).
Trump tidak merinci isi kesepakatan maupun tuntutan spesifik kepada Iran. Namun, ia memperingatkan bahwa jika Teheran menolak, operasi militer akan dilanjutkan dengan intensitas yang lebih tinggi.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran strategis dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Gangguan terhadap jalur ini berpotensi mengguncang pasar energi global serta meningkatkan ketegangan keamanan kawasan.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri terpilih Irak, Ali al-Zaidi, Selasa (5/5), menyatakan Iran tidak menutup pintu dialog. Namun, ia menegaskan perundingan tidak mungkin berlangsung di bawah tekanan sepihak.
“Masalah kami adalah di satu sisi Amerika Serikat menerapkan kebijakan tekanan maksimum, sementara di sisi lain mengharapkan Iran duduk di meja perundingan dan menyerah pada tuntutan sepihak. Kondisi semacam itu mustahil terwujud,” ujar Pezeshkian dalam pernyataan resmi.
Ia menegaskan Iran tidak menganggap perang sebagai pilihan yang menguntungkan, tetapi juga tidak akan mengorbankan teknologi nuklirnya. Menurut dia, Iran siap memenuhi kewajiban internasional dan membuka aktivitas nuklirnya untuk pemantauan global guna memastikan sifat damai program tersebut.
Dalam percakapan itu, Al-Zaidi menyatakan kesiapan Irak untuk menjadi mediator antara Iran dan Amerika Serikat guna meredakan krisis regional. Kedua pihak juga sepakat untuk meningkatkan hubungan bilateral melalui pertukaran kunjungan resmi.
Ketegangan antara Iran dan blok Amerika Serikat–Israel meningkat sejak serangan gabungan pada 28 Februari yang menyasar Teheran dan sejumlah kota lain, menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, serta sejumlah komandan dan warga sipil. Iran kemudian membalas melalui serangan rudal dan drone ke Israel serta aset milik Amerika Serikat di Timur Tengah.
Gencatan senjata sempat dicapai pada 8 April, namun perundingan damai yang digelar di Islamabad pada 11–12 April berakhir tanpa kesepakatan. Hingga kini, peluang perdamaian masih bergantung pada titik temu antara tuntutan Washington dan sikap Teheran yang menolak negosiasi di bawah tekanan. (anadolu/rih)





