MELAWI || Sebuah rekaman video amatir yang memperlihatkan detik-detik menegangkan sebuah mobil melintasi jembatan yang rusak parah di Desa Balai Agas, Kecamatan Belimbing, mendadak viral dan memicu gelombang amarah serta kesedihan netizen. Video tersebut menjadi bukti nyata betapa rapuhnya urat nadi perekonomian warga di Kabupaten Melawi yang seolah terlupakan oleh pemangku kebijakan.
Dalam video berdurasi singkat tersebut, terlihat sebuah kendaraan roda empat harus ekstra hati-hati merayap di atas susunan kayu yang sudah lapuk dan berlubang. Salah sedikit saja, nyawa pengemudi dan keselamatan kendaraan menjadi taruhannya. Kondisi ini bukan lagi sekadar “kerusakan biasa”, melainkan ancaman keselamatan jiwa yang menghantui masyarakat setiap hari.
Seorang warga setempat yang meminta identitasnya dirahasiakan, mengungkapkan rasa frustrasinya dengan nada bergetar. Ia mewakili jeritan hati ratusan kepala keluarga yang menggantungkan hidupnya pada akses jalan tersebut.
“Kami merasa dianaktirikan. Apakah harus menunggu ada korban jiwa yang jatuh ke sungai baru pemerintah membuka mata? Kami hanya ingin jalan yang layak, bukan janji-janji saat kampanye saja,” ujarnya dengan penuh kesedihan.
Kondisi Jembatan Balai Agas ini menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Kabupaten Melawi. Di tengah narasi pembangunan yang kerap didengungkan, fakta di lapangan justru menunjukkan ketimpangan yang menyakitkan. Masyarakat mempertanyakan transparansi dan prioritas anggaran infrastruktur yang seharusnya menyentuh wilayah-wilayah krusial seperti Kecamatan Belimbing.
Kekecewaan warga kian memuncak karena jembatan ini merupakan akses utama untuk mobilitas pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Jika jembatan ini terputus, maka Desa Balai Agas terancam terisolasi dari dunia luar.
Melalui unggahan yang viral tersebut, masyarakat Desa Balai Agas menaruh harapan besar—mungkin harapan terakhir mereka—agar Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta Bupati Melawi segera turun ke lapangan.
Tuntutan masyarakat sangat sederhana namun mendesak:
1. Agar jembatan bisa dilalui dengan aman.
2. Pembangunan jembatan permanen yang layak dan kokoh.
3. Kehadiran nyata pemerintah di tengah penderitaan rakyat pelosok.
Sampai berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait mengenai kapan perbaikan akan dilakukan. Masyarakat hanya bisa menanti dalam ketidakpastian, sembari terus berdoa agar setiap perjalanan mereka melintasi jembatan “maut” tersebut tidak menjadi perjalanan terakhir mereka.(jnr)

