JAKARTA | Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memastikan tiga personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) dan terluka akibat ledakan di El Adeisse, Lebanon selatan, berada dalam kondisi stabil.
Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, menjelaskan ledakan yang terjadi di dalam posisi PBB pada Jumat (3/4/2026) mengakibatkan tiga prajurit asal Indonesia mengalami luka. Dua di antaranya yang mengalami luka lebih serius telah dievakuasi ke rumah sakit di Marjayoun dan kini dilaporkan stabil.
“Sementara satu personel lainnya mendapatkan penanganan medis langsung di lokasi karena luka yang tidak terlalu parah,” ujar Dujarric dalam konferensi pers di Markas Besar PBB, Senin waktu setempat.
PBB juga menyatakan keprihatinan serius atas meningkatnya serangan terhadap personel UNIFIL, termasuk insiden perusakan perangkat kamera pengawas di markas pasukan perdamaian. Organisasi tersebut mendesak semua pihak untuk mematuhi hukum internasional serta menjamin keselamatan personel PBB di lapangan.
“Kami mendesak semua pihak untuk memenuhi kewajiban mereka di bawah hukum internasional dan memastikan keamanan personel PBB setiap saat,” kata Dujarric.
Terkait dua insiden sebelumnya pada akhir Maret 2026 yang menewaskan tiga prajurit TNI, PBB menyebut proses penyelidikan masih berlangsung. Ketiga korban gugur tersebut adalah Praka Farizal Rhomadhon yang tewas akibat tembakan artileri pada 29 Maret, serta Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ikhwan yang gugur saat konvoi yang mereka kawal diserang sehari setelahnya.
Selain korban jiwa, lima prajurit TNI lainnya juga mengalami luka dalam dua insiden tersebut, yakni Lettu Inf Sulthan Wirdean Maulana, Praka Deni Rianto, Praka Rico Pramudia, Praka Bayu Prakoso, dan Praka Arif Kurniawan.
Dengan tambahan tiga korban luka dalam peristiwa terbaru di El Adeisse, total delapan prajurit TNI tercatat terluka selama menjalankan misi penjaga perdamaian di Lebanon dalam beberapa pekan terakhir. (rih)

