TEHERAN | Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah angkatan bersenjata Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat yang berada di Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Kuwait.
Juru bicara Markas Pusat Khatam Al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menyatakan bahwa dalam gelombang ke-89 operasi militer, Iran meluncurkan rudal dan kendaraan udara tanpa awak (UAV) ke sejumlah wilayah strategis, termasuk Eilat, Tel Aviv, dan Bnei Brak.
Ia menambahkan, serangan juga menyasar lokasi yang menampung personel militer AS di Bahrain. Sekitar 80 orang dilaporkan terdampak dalam serangan tersebut, dengan sebagian di antaranya tewas atau mengalami luka-luka.
Selain itu, pasukan Iran mengklaim telah menyerang kelompok helikopter Angkatan Darat AS di pangkalan Al-Adiri di Kuwait. Dalam serangan tersebut, satu helikopter dilaporkan hancur, sementara beberapa lainnya mengalami kerusakan berat.
Iran juga menyebut telah menghancurkan dua sistem radar peringatan dini milik AS yang berada di wilayah maritim serta di pulau-pulau milik Uni Emirat Arab.
“Sejak pagi hari, tentara Iran menargetkan konsentrasi pesawat pengisian bahan bakar udara milik AS di Bandara Ben Gurion menggunakan UAV serang, serta stasiun radar yang digunakan untuk mendeteksi dan mencegat rudal dan drone,” ujar Zolfaghari.
Eskalasi ini merupakan bagian dari rangkaian aksi balasan setelah serangan gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu ke sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan infrastruktur serta korban sipil.
Sejak saat itu, konflik berkembang menjadi aksi saling serang antara Iran, Israel, dan kepentingan militer AS di kawasan, memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik bersenjata di Timur Tengah. (rih)

