WASHINGTON | Militer Amerika Serikat meningkatkan intensitas serangan udara terhadap Iran dengan mengerahkan pesawat pengebom siluman Northrop Grumman B-2 Spirit untuk menghantam fasilitas militer strategis. Serangan tersebut menargetkan peluncur rudal balistik Iran yang berada di bunker bawah tanah menggunakan bom penetrator berbobot hampir satu ton.
Komandan United States Central Command (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper mengatakan, dalam 72 jam terakhir pasukan pengebom AS menyerang hampir 200 sasaran di berbagai wilayah Iran, termasuk area di sekitar ibu kota Teheran.
Dalam konferensi pers di Pentagon, Kamis (5/3/2026), Cooper menyatakan operasi militer juga diperluas dengan peningkatan tekanan terhadap kekuatan angkatan laut Iran.
Menurut dia, jumlah kapal Iran yang berhasil ditenggelamkan terus bertambah. “Presiden Donald Trump sebelumnya menyebut 24 kapal telah ditenggelamkan. Saat itu benar. Kini jumlahnya sudah melampaui 30 kapal,” ujar Cooper.
Ia juga mengklaim serangan balasan Iran mengalami penurunan tajam sejak operasi militer dimulai. Serangan rudal balistik disebut turun hingga 90 persen, sementara serangan drone berkurang sekitar 83 persen.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran sejak 28 Februari. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 900 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta sedikitnya 165 siswi sekolah.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal ke sejumlah lokasi yang berkaitan dengan kepentingan Amerika Serikat di negara-negara Teluk. Pada akhir pekan lalu, serangan drone di Kuwait City dilaporkan menewaskan enam personel militer AS di sebuah pusat operasi taktis. (Anadolu/rih)

