KSPSI menitipkan aspirasi ratifikasi Konvensi ILO 188. (Antara Photo)
JAKARTA || Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2025 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, menjadi momentum bersejarah bagi gerakan buruh di Indonesia. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade, perayaan May Day diselenggarakan secara meriah dengan kehadiran langsung Presiden Republik Indonesia di panggung yang sama dengan para pemimpin serikat pekerja.
Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Jumhur Hidayat, menyebut kebersamaan itu sebagai simbol harapan baru. “Banyak yang bertanya, bagaimana mungkin buruh bisa bersama Istana. Saya katakan, karena Istana sekarang adalah Istana yang membebaskan kaum miskin dan akan membebaskan buruh dari keterpurukan,” ujar Jumhur dalam pidatonya di hadapan ratusan ribu buruh, Kamis (1/5/2025).
Menurut Jumhur, perhatian pemerintah terhadap sektor pekerja meluas hingga upaya memperkuat daya beli masyarakat dan petani di desa. “Bapak Presiden ingin meningkatkan daya beli, memperkaya petani di desa-desa. Produk-produk yang kita hasilkan di industri akan terbeli, dan sistem ekonomi industri kita akan hidup,” katanya.
Dalam kesempatan itu, KSPSI juga menyampaikan satu aspirasi utama, yakni ratifikasi Konvensi Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) Nomor 188 tentang Pekerja Perikanan. “Teman-teman yang bekerja di laut menitipkan pesan agar konvensi ini segera diratifikasi menjadi undang-undang,” ujar Jumhur.
Ratifikasi konvensi ini dinilai penting untuk menjamin hak dan perlindungan ratusan ribu pekerja Indonesia di sektor kelautan dan perikanan. KSPSI berharap hal tersebut menjadi agenda bersama antara Istana dan DPR RI dalam waktu dekat. “Insya Allah, buruh akan terang benderang di masa depan, rakyat Indonesia juga akan terang benderang,” kata Jumhur mengakhiri pidatonya. (rih)

