25.6 C
Jakarta
Minggu, Maret 7, 2021

JANGAN KEHILANGAN TAUHID

- Advertisement -
- Advertisement -

Oleh: Buya Masoed Abidin Al Jabbar

Orang hidup memang senang kepada kesenangan.
Tetapi dalam kenyataannya: nilai atau harga atau ukuran kesenangan itu ditentukan oleh paradigma yang paling menguasai dunia terkini.

Paradigma materialistik dan sekuralistik itu melahirkan anak-kandungnya pula, yaitu budaya pemujaan terhadap kesenangan indera, dan mengejar kenikmatan badani, itulah yang disebut orang dengan istilah paradigma hedonistik itu.

Berpikir lurus ke akar-akar permasalahan, maka jelaslah bahwa paradigma materialistik, sekularistik, dan hedonistik itu bukan – dan malah berlawanan, dalam pengertian maupun tataran apapun, dengan – paradigma tauhid Laa ilaaha illa Allah.

Melihat kenyataan dalam kehidupan kita, maka dapat diperkirakan bahwa telah dan akan semakin menjadi-jadi berbagai penyimpangan. Ini mesti dilawan, tidak cukup dengan kepalan tinju, tetapi mesti dengan cara cerdas, tangkas, dan arif sekaligus bernas.

Sebab, jika kita tidak melakukan sesuatu untuk menyelamatkan diri, maka nenek moyang kita yang telah ikhlas menerima paradigma tauhid Laa ilaaha illa Allah itu tidak akan ikhlas menyaksikan “adegan kehilangan” ini.

Pun begitu juga nantinya, anak-cucu-cicit kita akan meratapi kelalaian kita yang menyebabkan mereka seperti tiba-tiba saja sudah tersesat di “rimba kehilangan”.

Ya, jangan sampai kita “kehilangan” tauhid Laa ilaaha illa Allah!

Maka bersamaan dengan itu saksikan pula betapa gejala penyimpangan-penyimpangan lainnya pun telah merajalela.
Seperti kriminalitas; sadisme;
lalu krisis moral (antara lain hilang rasa malu dan hilang rasa bersalah sehingga merasa tak malu dan tak bersalah melakukan korupsi dan berbagai kejahatan lainnya);
dan vandalistik sebagaimana tampak dalam berbagai tawuran massal alias cakak-banyak (tawuran pelajar, tawuran antar kampung, tawuran antar pendukung partai, atau antar preman dan lain-lain semacamnya).

Di samping itu, tindakan di tengah pergaulan marak pula perbuatan a-susila di kalangan remaja dan mahasiswa. Kecabulan dan pornografi sulit pula membendungnya.
Berbagai upaya telah dilakukan, namun selalu terbentur dengan kajian-kajian hak asasi manusia.

Aduhai hak asasi manusia?!
Bagaimana mungkin kita bergerak dari satu ekstrimitas ke eksterimitas lainnya: dulu bertahun-tahun dihentak-benakkan dalam-dalam ke dalam kesadaran kita tentang mesti mendahulukan kewajiban, alias kewajiban asasi; dan kini mengedepankan hak asasi.

Padahal kedua hal itu ibarat dua sisi dari mata uang yang sama, yang tak layak dipisah-pisahkan.

Dan bukankah umat Islam yang sungguh Islam itu adalah “umat tengah” yang berjalan lurus di tengah jalan kebenaran, sehingga pengalaman telah mengajarkan kepada kita bahwa sungguh tak aman sekedar KAM (Kewajiban Asasi Manusia) yang meniadakan hak asasi, juga tak nyaman sekedar HAM (Hak Asasi Manusia).

Selayaknya adalah utuh-lengkap: HAKAM (Hak Asasi & Kewajiban Asasi Manusia).
Sebab masalahnya adalah: siapa yang akan menuai hak, kalau tak ada yang menunaikan kewajiban?

Ihwal ini hampir tak disentuh para cendikiawan kita.
Sebagian dari mereka mulai condong mendalami kehidupan non-science, antara lain asyik mencari kekuatan gaib, belajar sihir, bahkan mencari paranormal, dengan upaya menguasai kekuatan jin, bertapa ke tempat angker, menyelami black-magic, mempercayai mistik, dan lain-lain sejenisnya.
Tayangan media elektronik juga dibumbui resep kisah misteri dan horor dengan bantuan jin dan mantera-mantera.

Situasi ini makin diperparah oleh limbah budaya kebarat-baratan yang malah seringkali dianggap sebagai ukuran modern.
Hiburan-hiburan mulai menayangkan selera rendah.
Orientasi wisata dengan asyik menampilkan keunggulan 3-S tourisme (sun-sea-sex).

Gaya hidup mulai terjebak kepada perilaku konsumeristis, rakus, boros, cinta mode, bebas sex, ittiba’ syahawat, yakni menurutkan hobi nafsu syahwat.

Karena itu selanjutnya tak dapat tidak kehidupan pun akan mengarah kepada sikap individualistik, hanya mengurus diri sendiri, terlepas dari kawalan agama dan adat luhur.
Kesudahannya tentu menampilkan gaya permissiveness alias serba boleh, tindakan anarkis, tanpa mengindahkan rambu-rambu lama.
Kebiasaan pergaulan di kalangan muda-mudi terlihat sering dikemas dengan nan lamak di salero (sensete culture) yang cenderung dikait-kaitkan dengan perilaku hedonistik.

Orientasi budaya terfokus kepada hiburan melulu. Akibatnya, senang ataupun tidak, nilai-nilai utama kehidupan (grand norms) dan cita-cita luhur (grand ideas) di tengah masyarakat mulai terlepas. Kawalan agama, adat istiadat, moral luhur dan akhlak mulia mulai tercecerkan.

Tuntunan ilmu dan filsafat mulai tercerabut dari nilai-nilai normatif lainnya. Seni pun tampak dibungkus selimut art for art’s, bertitik tumpu kepada hal-hal yang sensual, erotik, horor, ganas, lazimnya lahir dari klub-klub siang malam atau night club, kasino dan panti pijat. Itulah sebagian dari peta permasalahan kita.

Masih dapat diperpanjang lagi dengan daftar masalah-masalah mendasar lainnya meliputi sosial-politik-ekonomi-budaya.
Termasuk: masih mungkinkah kita sungguh merdeka sebagai bangsa kalau kita sudah terjajah oleh utang bermerek bantuan – yang sesungguhnya tiang-gantungan yang dipasangkan orang ke leher kita – yang menjerat itu?
Ah, “mahangok kalua badan”,
ujung-ujungnya…, ah “mati tahanyak”.
(Bernafas keluar badan, mati terhenyak).

Dan kalau pun kita dibebaskan dari utang-utang itu – sesuatu yang mustahil pula – tetapi masih ada tanya yang tersisa dan nyaris tak mungkin terjawab, yaitu:
Apakah kita dapat memerdekakan diri dari keterjajahan kita kepada sistem perekenomian global?
Khususnya membebaskan diri dari sistem moneter dan finansial global?

Sebab, di samping tak bebas dari praktek riba, sistem yang berlaku ini juga “menghalalkan korupsi nilai dan atau pun perjudian nilai”.

Ini karena uang tidak hanya menjadi alat-tukar, namun sekaligus menjadi barang dagangan.

Padahal uang itu sendiri, sebagai benda, kehadirannya tidak lagi sungguh berdasarkan cadangan emas dunia (yang jelas dan mesti ada).

Demikianlah… Maka fikirkanlah dalam dalam… Semua akan binasa dan yang menjadi satu satunya kekayaan yang kekal adalah keyakinan akidah tauhid, LAA ILAAHA ILLA ALLAAH.

Wassalaam

- Advertisement -

Latest news

Dua Belas Tokoh Probolinggo Publik Disuntik Vaksin Covid-19 Dosis 2

Kabarmetro.id, PROBOLINGGO - Sebanyak 12 orang tokoh publik di Kabupaten Probolinggo mengikuti suntik vaksin Covid-19 untuk dosis 2 di Puskesmas Kraksaan Kecamatan Kraksaan, Jumat...
- Advertisement -

Kejaksaan Wajib Menjaga Iklim Usaha yang Kondusif

Kabarmetro.id, JAKARTA - Jaksa Agung ST Burhanuddin menegaskan bahwa peran Kejaksaan Agung (Kejagung) dan jajarannya, tidak lagi sebatas penegakan hukum, tetapi juga memastikan iklim...

Mendag Perkuat UMKM Dalam Gerakan Cinta Produk Indonesia

Kabarmetro.id, JAKARTA - Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyambut baik gerakan cinta produk Indonesia yang di gaungkan Presiden Jokowi, Sabtu (6/3). Mendag menyampaikan, dalam upaya mendukung...

Muspika Bekasi Timur Monitoring Pemberian Vaksin Covid-19

Kabarmetro.id, KOTA BEKASI – Dalam rangka mensuskseskan program Vaksinasi Nasional Danramil-03/Teluk pucung Bersama Kapolsek Bekasi Timur Monitoring Pemberian Vaksin Covid-19 tahap pertama kepada warga...

Related news

Kisah Gereja Ijen di Malang

Kabarmetro.id, MALANG - Gereja Ijen merupakan salah satu gereja Katolik di Kota Malang. Selain karena keindahan bentuk bangunannya yang mengundang banyak jemaat, juga karena...

Menempuh Titian Shiratal Mustaqiem

Oleh: Buya Masoed Abidin Al Jabbar ✐ Setelah Malaikat Israfil meniup sangkakala (bentuknya seperti tanduk besar) yang memekakkan telinga, seluruh makhluk mati kecuali Izrail &...

RINGKASAN KAJIAN TAUHID Oleh: Buya Masoed Abidin Za Jabbar

Kabarmetro.id 1. Tauhid merupakan kunci kebahagiaan dan kejayaan. Tauhid merupakan tema yang sangat agung . Tauhid menurut bahasa berarti menjadikan sesuatu itu satu. Tauhid itu...

Renungan di Awal Tahun 2021 Oleh: Buya Masoed Abidin Za Jabbar

Kabarmetro.id - JIKA KITA FOKUS PADA TUJUAN HIDUP, MAKA KITA TIDAK AKAN PUNYA WAKTU UNTUK MENILAI KEJELEKAN ORANG LAIN.” … Ingatlah itu selalu, fokuslah...
- Advertisement -

Tinggalkan Balasan