Ada Tujuh Strategi, Mentan Paparkan Antisipasi Banjir Dampak La Nina

Kabarmetro.id, Jakarta – Syahrul Yasin Limpo Menteri Pertanian memaparkan, tujuh strategi dalam mengantisipasi dan memitigasi dampak dari fenomena alam La Nina, yang dapat menyebabkan banjir di lahan pertanian.

Pada konferensi pers penetapan target luas tanam di Ruang Agriculture War Room Kementan, Mentan Syahrul menjelaskan bahwa langkah pertama adalah pihaknya akan melakukan pemetaan (mapping) wilayah rawan banjir, sesuai dengan tingkat intensitas curah hujan di daerah tersebut. Senin (26/10).

“Semua jajaran pemerintahan harus mampu mapping wilayah rawan banjir, yang mana wilayah merah, kuning dan hijau, semua tetap waspada dan kita prediksi daerah rawan itu. Kalau mapping-nya ada, tentu persiapan kita akan lebih maksimal,” katanya.

BACA JUGA:  Target Kemkominfo Awal 2021 Rampung Fasyankes Se-Indonesia

Syahrul menjelaskan bahwa puncak fenomena iklim La Nina akan terjadi pada Desember 2020 sampai Januari 2021.

Dampak dari anomali iklim tersebut, akumulasi curah hujan bulanan di Indonesia akan meningkat sebesar 20-40 persen di atas normal.

Intensitas curah hujan yang tinggi ini berakibat akan memicu banjir hingga tanah longsor. Beberapa wilayah yang diprediksi mengalami peningkatan curah hujan, yakni Kalimantan bagian timur, Sulawesi, Maluku Utara, dan Papua.

BACA JUGA:  TPS Bebas Covid-19

Pemetaan wilayah banjir, strategi kedua adalah sistem peringatan dini (early warning system) dengan melakukan pemantauan terhadap laporan cuaca dari BMKG agar dapat diantisipasi oleh jajaran Kementan.

Strategi ketiga membentuk brigade bencana alam yang siaga di setiap provinsi hingga kabupaten. Kemudian, melakukan pompanisasi in and out dari sawah, serta melakukan rehabilitasi jaringan tersier terutama di daerah rawan banjir.

“Kelima, gunakan benih yang tahan genangan, seperti varietas Inpara 1 sampai 10, Inpari 29, Inpari 30, varietas unggul lokal yang kita miliki,” kata Mentan.

BACA JUGA:  Kabaharkam Polri Terima Audensi Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden

Mentan menambahkan, langkah keenam yakni memberikan asuransi usaha tani padi dan bantuan benih gratis bagi petani yang mengalami gagal panen (puso).

Dan yang terakhir, Kementan mengoptimalisasi kegiatan pascapanen dengan menggunakan pengering.

Menpan pun meminta pengering serta rice milling unit (RMU) menjadi perhatian khusus bagi pemerintah daerah, terutama dinas pertanian di tingkat Provinsi dan Kabupaten. (red/km)

 18 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *