Mempermudah Kurikulum 2013, FSGI Dukung, Ada 6 Syarat

Kabarmetro.id, Jakarta – Setelah melakukan kajian singkat Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) secara internal terkait kebijakan mempermudah Kurikulum 2013 oleh Pusat Kurikulum Kemdikbud RI.

Dengan mendukung rencana permudah Kurikulum oleh Kemdikbud, karena memang sudah saatnya kurikulum disederhanakan terutama di masa pandemi Covid-19 saat ini dengan adanya kebijakan PJJ.

Dengan tidak dalam kondisi pandemi saja Kurikulum 2013 sulit dituntaskan, apalagi saat bencana seperti saat ini.

BACA JUGA:  Mahfud: Papua Bakal Dimekarkan Jadi 5 Provinsi

Retno Listyarti Dewan Pakar FSGI mengatakan, FSGI berposisi mendukung rencana pemerintah melakukan penyederhanaan kurikulum dengan enam catatan.

“Pertama, penyederhanaan adalah untuk mengurangi muatan kurikulum 2013 yang selama ini sarat beban dan sulit dituntaskan,” katanya, Minggu (27/9).

Kedua, penyederhanaan kurikulum berfokus pada pengurangan muatan, terutama materi yang tumpang tindih antar mata pelajaran terkait, bukan menghilangkan mata pelajaran tertentu.

Ketiga, penyederhaan juga diperlukan di saat pandemi Covid-19 karena pembelajaran jarak jauh (PJJ) menghadapi sejumlah kendala.

BACA JUGA:  Maklumat Kapolri Tentang Covid-19, Secara Tegas Kapolres Lampung Utara Larang Warga Kumpulkan Massa.

“Penyederhanaan ke empat, juga harus dilakukan selama pandemic covid 19, karena jam belajar setiap mata pelajaran sudah banyak dikurangi,” ucapnya.

Yang kelima, untuk Matpel Sejarah, penyederhanaan dilakukan untuk penguatan muatan sejarah local dalam konteks sejarah nasional Indonesia.

“Kenam, penguatan pembelajaran sastra untuk Matpel Bahasa dan Sastra Indonesia,” ucapnya.

Ia mengatakan, ini menjadi momentum bagi FSGI untuk memberikan sejumlah masukan kepada Kemdikbud, diantaranya untuk mata pelajaran Sejarah, Bahasa dan Sastra Indonesia.

BACA JUGA:  Presiden Jokowi Pimpin Upacara HUT TNI ke-75 Secara Virtual

“Penguatan pendidikan kesusastraan penting, sebab, generasi muda dapat belajar budaya lewat sastra. Karena selama ini, pembelajaran sastra lemah. Sastra yang berkembang justru penguasaan teori-teori,” katanya.

Begitu juga, kurikulum Sejarah harus memasukan aneka pengetahuan dan kearifan lokal yang telah lahir dari rahim peradaban manusia Indonesia sendiri selama berabad-abad.(red/fa)

 28 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *