Dampak Pengetatan PSBB di Jakarta Menjadi Penyebab Resesi Nasional

Kabarmetro.id, Jakarta – Pemerintah bersiap hadapi tekanan ekonomi, pinta Badan Anggaran (Banggar) DPR RI. Mengingat resesi diambang mata pada kuartal III-2020.

Pertumbuhan Product Domestic Bruto (PDB) diprediksi antara -3,6 persen sampai -2,9 persen. “Kita perlu mempersiapkan diri dengan baik menghadapi tekanan ekonomi kedepan, tidak perlu membuat kegaduhan, baik karena akrobat kebijakan maupun pernyataan. Resesi sudah hampir pasti akan kita hadapi,” kata Ketua Banggar DPR RI, MH Said Abdullah, Selasa (22/9).

BACA JUGA:  Polemik UU Cipta Kerja, Mahfud Tampung Aspirasi Buruh

Kebijakan PSBB menurutnya, guna mengurangi penyebaran virus covid-19 berdampak menurunnya aktivitas ekonomi. Indikasinya, pertumbuhan PDB negatif 5,32% pada kuartal II 2020.

Ada beberapa sektor yang pertumbuhan negatif paling dalam diantaranya; angkutan udara -77,24%, angkutan rel -59,11%, penyediaan akomodasi -42,25%, industri angkutan 37,54% pergudangan dan jasa penunjang angkutan -34,88%, perdagangan mobil, sepeda motor dan reparasi -30,60%.

Beberapa sektor juga ada tumbuh baik, diantaranya; tanaman pangan 34,77%, tanaman perkebunan 23,46%, pertambangan biji logam 20,33%, jasa pertanian dan perburuhan 11,23%.

BACA JUGA:  Indonesia Butuh 5.000 Pendonor Plasma Konvalesen Per Bulan

Kembali diberlakukan pengetatan PSBB di Jakarta oleh Gubernur DKI Jakarta potensial akan kembali memberi tekanan pada ekonomi kita di Kuartal IV-2020. “Bila pengetatan PSBB berlangsung lama, besar kemungkinan kontraksi ekonomi juga akan semakin dalam,” ungkapnya.

Said, Politisi PDI Perjuangan ini berharap, agar membuat kebijakan yang terintegrasi, termasuk pernyataan ke publik. Sebab, kebijakan terintegrasi akan menghasilkan spektrum yang luas dengan mempertimbangkan semua aspek.

BACA JUGA:  Menaker: Masuk Kerja 9 Desember Terhitung Lembur

“Pelajaran penting dari kebijakan pengetatan PSBB oleh Gubernur Jakarta yang tidak dipersiapkan sedari awal. Begitu mendadaknya pengumuman PSBB dampaknya guncangan di pasar saham.

Pernyataan-pernyataan para pejabat dalam komunikasi publik yang kurang empatif, kurang rendah hati dan terkesan “ngeles” juga menimbulkan reaksi kegaduhan ditengah tengah masyarakat,” tuturnya. (red/ehs)

 914 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *