Demokrasi Dikebiri, Tokoh Masyarakat Serukan Menangkan Kotak Kosong di Humbahas

Humbang Hasundutan, kabarmetro.id – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Humbang Hasundutan (Humbahas) Desember 2020 dipastikan hanya diikuti satu pasangan calon.

Pasangan Dosmar Banjarnahor -Oloan Paniaran Nababan yang diusung oleh PDIP, Demokrat, Hanura, Gerindra, Nasdem dan Partai Golkar akan menjadi calon tunggal melawan kolom atau kotak kosong.

Pilkada yang hanya diikuti 1 pasangan calon (calon tunggal) merupakan pencideraan demokrasi, ini menjadi penilaian terburuk oleh sejumlah tokoh masyarakat Humbahas.

BACA JUGA:  Ini Yang Disampaikan! Jelang Pelaksanaan Pilkada 2020, Irwasum Polri Kunjungi Polda Kalbar

Demokrasi dikebiri sejumlah
tokoh masyarakat serukan menangkan kotak kosong di Humbahas. Mereka siap rela dan bergerak mengampanyekan menangkan kotak kosong.

Salah satunya, Warluy Simamora, tokoh pemrakarsa pembentukan Kabupaten Humbang Hasundutan. Menurutnya, gerakan mengampanyekan kotak kosong adalah perwujudan aspirasi masyarakat Humbang.

“Saya sebagai warga negara sangat kecewa, ini tidak sehat untuk demokrasi. Saya akan mengampanyekan agar masyarakat memilih kotak kosong,” katanya saat ditemui di Posko Relawan Pemenangan Kotak Kosong, Jalan Merdeka, Dolok Sanggul, Selasa (16/9/2020).

BACA JUGA:  Gelar Syukuran Hasil Hitung Cepat Kemenangan Pasangan DAKU Pilkada Kabupaten Melawi

Tokoh masyarakat lainnya, Mangupar Simanullang, memiliki pandangan serupa. Bahkan dia menilai kondisi saat ini seolah-olah kekuasaan itu ada di tangan partai.

“Demokrasi itu adalah dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Bagaimana lahir seorang pemimpin kalau sudah ditentukan dari atas. Mudah-mudahan masyarakat Humbang semakin mengerti hak dan kewajibanya dan mau berjuang bersama relawan pemenangan kotak kosong,” harapnya.

BACA JUGA:  Ihwal Percepatan Pemekaran Provinsi Kepulauan Buton, La Bakry Kunjungi Ketua Komisi II DPR RI

Senada dalam berpikir juga diungkapkan, Herianto Purba, Ketua Generasi Muda Toga Purba Bonapasogit. Menurutnya, Pilkada dengan calon tunggal sangat tidak sehat, sebab hampir seluruh partai politik mendukung satu pasangan calon.

“Kita harus bergerak. Ini bukan kampanye golput, tetapi perlawanan terhadap oligarki. Jadi kotak kosong itu sebagai koreksi,” tegasnya.(BS)

 7,981 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *