keterangan saksi pelapor “sering lupa dan tidak tahu”

Sidang ke 5 Di Pengadilan Negeri Jakarta Timur pembuktian dan keterangan saksi pelapor 

Jakarta, kabarmetro.id – 18-08-2020, sidang Perkara pidana dengan No.Perkara : PDM – 146/JKT.TMR/6/2020 yang menjerat sunarta alias narto salah satu warga Lubang buaya dengan status terdakwa di disidangkan kembali hari ini di Pengadilan Negeri Jakarta Timur .

Sidang dipimpin oleh Hakim ketua :Tri andita juristiawati SH., M.HUM dan Suparman Nyompa, SH.MH dan I Wayan Sukanila SH.,MH Sebagai hakim anggota dan Bambang Sirajuddin SH.,MH sebagai Panitera Pengganti, mendengarkan saksi yang di ajukan oleh Jaksa Penuntut Umum ( JPU ), saksi yang di hadirkan dari 4 orang baru 1 orang saksi yang sekaligus dan mengakui pemilik lahan, serta pelapor yang di dengarkan kesaksiannya, karena tidak mencukupi waktu untuk sidang mendengarkan kesaksian yang lainnya.

Terdakwa sunarta alias narto yang turut bersama warga memperjuangkan hak atas tanahnya dengan dasar pembelian Girik Asli No. C 286 Tahun 1950 atas nama Sauih Bin H.Buang yang di belinya dari Tajuddin anwar dengan dilengkapi akta pengikatan jual beli, yang saat ini tiba-tiba diakui oleh pihak lain dengan dasar sertifikat hak milik yang berujung pada pemidanaan.

Sengketa tanah antara warga di Jl. SPG Vll RT 013 RW 009 kelurahan lubang buaya kecamatan cipayung kota jakarta timur yang mempunyai dasar girik No.C 286 Tahun 1950 atas nama Sauih Bin H Buang dan warga membeli dari ahli waris Sah Sauih Bin H Buang dan dengan herman triatmo yang mengaku memiliki sertifikat, tidak bawa ke ranah perdata oleh pelapor tapi justru pada pemidanaan terhadap salah satu warga , padahal masing masing pihak mengaku memiliki dasar alas hak.

BACA JUGA:  Antara Kekuasan dan Kejahatan Baru di Balik Asimilasi.

Dasar Hukum Kepemilikan Janggal

Sedangkan pengakuan dan kesaksian Herman Triatmo, mengaku membeli tanah dari mizar alias Miswah, dan dasar penerbitan sertifikat hanya berupa pengakuan hak dan surat keputusan kanwil BPN Jakarta timur.

Herman triatmo mengatakan membeli tanah tahun 1996 , tetapi tidak pernah satupun warga ada yang mengenal nya ataupun ada keberatan atau pengakuan yang disampaikan kepada warga yang sudah puluhan tahun menempati, menguasai fisik dan membeli oleh herman triatmo selama ini jika memang merasa memilikinya.

kesaksian Herman triatmo yang sering mengatakan lupa , tidak ingat , tidak tahu dari setiap pertanyaan yang diajukan oleh majelis hakim maupun Penasehat Hukum dari terdakwa Sunarto alias Narto hingga membuat warga ramai dan membuat masa kedua kubu kisruh.

Herman Triatmo dari awal hingga akhir didengarkan kesaksiannya lebih banyak mengatakan lupa, tidak tahu dan bahkan semua permasalahan dilimpahkan kepada orang yang Bernama Jaya , dimana Jaya akan di dengarkan kesaksiannya pada sidang berikutnya (Selasa 25-8-2020 ).

” saya lupa pak , saya tidak tahu dan semuanya sudah saya serahkan kepada Jaya,” ucap Herman Triatmo

” saya tidak tahu riwayat tanah itu, tapi saya ingat saat proses pembelian tanah dari mizar itu terlibat juga oleh camat cipayung saat itu tapi saya lupa namanya dan tanggalnya,” ungkap Herman.

” saya ingat tanah itu saya beli dari mizar dan.ada AJB ( akte jual belinya ) dan surat tanah dari putusan PK MA, tapi saya lupa tahun berapa,” kata Herman Triatmo.

Dilain pihak Kuasa Hukum Sunarta alias Narto menjelaskan seharusnya sengketa kepemilikan masuk ke ranah perdata dan di selesaikan pelapor secara perdata terlebih dahulu.

BACA JUGA:  " Narkoba Era Baru " Rusak Otak Anak

tetapi justru terdakwa sunarta alias narto terpaksa diseret ke kursi pesakitan dengan laporan pidana oleh herman triatmo dan sudah memasuki sidang Ke 5.
sedangkan pembuktian dari Pihak JPU ( jaksa penuntut umum ) Tri Wahyu Agus Praktekta di pengadilan negeri jakarta timur dengan menghadirkan saksi pelapor herman triatmo dan kawan-kawan.

Pihak Pengacara Terdakwa Sunarta alias Narto Armyn rustam effendy SH, MH.dan sukma murti eka SH, advokat, asisten advokat dan konsultan hukum dari kantor hukum AR Effendy & Partners memberikan penjelasan kepada faktual.net ( 18-08-2020 ) bahwa kliennya saat ini sudah sebagai terdakwa di dakwa dengan pasal 385 ayat 4 KUHP dan dilaporkan di polres metro jakarta timur.

” Padahal sunarta alias narto membeli tanah dari tajuddin anwar dengan dasar girik no c 286 tahun 1950 milik sauih bin h buang dan akta pengikatan jual beli yang di Keluarkan oleh notaris,” ucap Rustam Effendy

” Namun Tajjudin beralih ikut menyerang sunarta alias narto dan menjadi saksi dari pelapor, dimana Tajjudinlah yang menjual tanah itu tahun 2009 dengan harga 75 jt, tapi anehnya surat perjanjiannya mundur tahun 2008, ditambah bagian halaman pertama surat perjanjian tidak ada paraf klien kami, dan kami menduga ada pemalsuan surat perjanjian yang dirubah subtansinya ,
kami menilai ini ada sesuatu yang disembunyikan dan juga ada fitnah disini untuk mengkriminalisasi klien kami demi keuntungan dan kepentingan tajuddin anwar yang kita tidak tahu apa kan ,” jelas Rustam E.

BACA JUGA:  Skandal Penipuan PT Jakmed Diotaki Orang Dalam

Eka asisten advokat menjelaskan warga dan terdakwa sunarta alias.narto yang mempunyai alas hak girik asli no. C 286 tahun 1950 atas nama sauih bin h buang, diakui milik herman triatmo, yang mengaku sebagai pemilik SHM dengan dasar penerbitan sertifikat adalah dari pengakuan hak dan surat keputusan kanwil BPN Jaktim, bukan AJB..

Bahkan tadi kita juga dengar bersama fakta persidangan pelapor mengatakan berdasarkan putusan PK,dan salah satu hakim anggota mengatakan apa ada didalam putusan Pengadilan yang menyatakan tanah itu milik mizar, tidak ada pernyataan seperti itu.”

“Seharusnya jika pelapor dan pihak lain mengaku turut punya hak atas tanah tersebut, atau masih ada sengketa kepemilikan ya silahkan gugat ke ranah perdata ,.Karena faktanya warga juga punya dasar dan membayar pajak sampai saat ini 2020.

“jangan malah justru pelapor herman triatmo menyeret salah satu warga bernama sunarta alias narto ke ranah pidana, kasus yang terkesan dipaksakan dan ada dugaan kriminalisasi yang seolah dibuat untuk mengintervensi warga.” Tambah Rustam Effendy

” faktanya Pada persidangan ke 5 dengan agenda kesaksian dari pelapor herman triatmo sekaligus menjadi salah satu pemilik sertifikat, lebih dominan mengarah pada.pembuktian keperdataan.”

” dan Herman yang mengaku memiliki tanah sejak tahun 1996 dan padahal warga sudah menempati dimulai kurang lebih sejak tahun 1975.” akhir Rustam.

Pihak Jaksa Penuntut Hukum belum dapat dikonfirmasi karena masih ada sidang lanjutan, dan sementara kuasa hukum dari Herman bergegas meninggalkan ruangan sidang dengan kawalan massa pendukungnya.[] Zul/Red

 5,293 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *