Meramal Nasib Batang Agam Menjadi Maskot Sumbar

Payakumbuh.kabarmetro.id– Agaknya, banyak pihak di Luak Limopuluah khususnya Payakumbuh, meramal nasib pasca Pekerjaan Pembangunan Sarana/ Prasarana Pengendalian Banjir Batang Agam kota Payakumbuh, yang telah kucurkan dana Rp.188.8 Milyar, selain percantik wajah kota bisa tingkatkan perekonomian masyarakatnya, atau bakal terciptanya arena maksiat ?

Beragam pertanyaan dibenak masyarakat Luak Limopuluah itu, setidaknya, dipaparkan Drs.Edi Anwar Asfar, putra Payakumbuh yang menetap di Jakarta, nyeletuk seputar kepercayaan pemerintahan pusat jangan sampai luntur, dari kucuran dana APBN guna Pekerjaan Pembangunan Sarana/ Prasarana Pengendalian Banjir Batang Agam kota Payakumbuh dengan Kontrak No. HK.02.03/358/BWS SV.PJSA.IAKR/SPJ/VII/2017, tgl 26 Juli 2017, yang dikerjakan PT.WIKA, NKES KSO, nilai Rp.188.797.831.000.000 APBN Murni ( Multiyear 2017-2018-2019), selain mempercantik kota yang terdiri 47 Kelurahan, 5 Kecamatan dan dihuni sedikitnya 130 ribu jiwa belaka, ungkap Edi.

BACA JUGA:  Diadukan ke Aparat Penegak Hukum Pjs Kades Pasirmuncang

Apakah pemerintahan kini dipimpin Walikota, Riza Falepi, sebagai leaders tentunya dituntut kucuran dana ratusan milyar itu, benar- benar bisa menggerakan perekonomian masyarakat setempat sebagai kota transit itu, demikian harap Budayawan dan seniman itu.

Ditegaskan Edi Anwar Asfar, berharap hindari image buruk pemerintahan pusat, dibawah kepemimpinan Joko Widodo, karena ratusan milyar dana yang dikucurkan untuk Pembangunan Sarana/ Prasarana Pengendalian Banjir Batang Agam kota Payakumbuh itu, tidak terlihat peningkatan kesejahteraan masyarakat, karena disinyalir info yang sampai ke luar kini dijadikan tempat berbuat maksiat bagi para kaum milenial, ingatnya

Sementara, berdasarkan komentar Koordinator LSM AMPERA Indonesia, DR.(HC), Syawaluddin Ayub, dari catatan pemantauannya baik sejak dimulainya pekerjaan Pembangunan Sarana/ Prasarana Pengendalian Banjir Batang Agam kota Payakumbuh dengan Kontrak No. HK.02.03/358/BWS SV.PJSA.IAKR/SPJ/VII/2017, tgl 26 Juli 2017, yang dikerjakan PT.WIKA, NKES KSO, nilai Rp188.797.831.000.000 APBN Murni ( Multiyear 2017-2018-2019), kondisinya kini terkesan amburadul, ujar Syawal.

BACA JUGA:  LKBH Makassar Desak Polda Sulsel Penjarakan Pelaku Dugaan Mark Up Bantuan Sembako Covid-19 di Kota Makassar

Hal tersebut terkait dari temuan LSM AMPERA Indonesia di lapangan, selain ditemukan beberapa item pekerjaan Turap ( Pemasangan Batu Pengaman Tebing sungai Batang Agam itu, kenapa perlakuannya tidak sama, juga masih ada beberapa segmen belum dikerjakan. Apakah pekerjaan Multiyear TA.2017- 2018- 2019 itu telah dilakukan FHO dan telah diserahterimakan dengan Pemerintah Kota Payakumbuh ?, demikian tanya Aktifis yang peduli Luak Limopuluah itu.

Selain itu, berdasarkan pemantau kami dilapangan, TA 2020 Kontrak HK.02.03/BWS SV-PJSA.IAKR/SP.1.025, tgl 14 Januari 2020, 300 hari kalender, nilai Rp.7.424.743.000, Pelaksana CV. Momen, Pengawas CV.Paradis Karya Konsultan, khusus penanganan jalan arteri ( kiri- kanan sisi Batang Agam- red), dipaparkan ada yang di aspal dan sebagian betonisasi ( coran ), tentunya perlu dijelaskan PPK Sungai dan Pantai SNVT.PJSA WS Indragiri, Akuaman WS Kampar, WS Rokan BWS S V Prop Sumbar, pinta Syawal.

BACA JUGA:  Mahfud MD: 92 Persen Calon Kepala Daerah Dibiayai Cukong

Menyikapi kondisi miris yang disimpulkan LSM AMPERA Indonisia terkait Pekerjaan Pembangunan Sarana/ Prasarana Pengendalian Banjir Batang Agam kota Payakumbuh, yang telah kucurkan dana Rp.188.8 Milyar, Multiyar (TA 2017- 2018- 2019), awak media yang berupaya minta tanggapan baik Saker, Ali Rahmat atau PPK Sungai dan Pantai SNVT.PJSA WS Indragiri, Akuaman WS Kampar, WS Rokan BWS S V Prop Sumbar, Rizki melalui pesan pribadinya, meskipun telah dibaca, agaknya terkesan bungkam.[] Tim

 29,922 total views,  2 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *