BerandaPolitikBawaslu Gelar Pelatihan dan Skema Penyelenggaraan Saksi Pemilu Demi...

Bawaslu Gelar Pelatihan dan Skema Penyelenggaraan Saksi Pemilu Demi Tegakkan Integritas Pemilu 2024

Kabarmetro.id, KOTA PROBOLINGGO – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kota Probolinggo menggelar Training of Trainer (ToT) penguatan kapasitas dan Skema Penyelenggaraan Saksi Peserta Pemilu Tahun 2024, Rabu (7/2/24) sore.

Kegiatan yang berlangsung di Paseban Sena Ballroom itu diikuti oleh ratusan saksi parpol, baik dari Partai Politik (Parpol) maupun saksi untuk Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres), Panwascam, PKD juga media.

Ketua Bawaslu Kota Probolinggo, Johan Dwi Angga melalui Koordinator Divisi PPPS (Penanganan Pelanggaran Penyelesaian Sengketa) Ade Nurwahyudi mengatakan, kegiatan ini merupakan tanggung jawab yang telah diamanatkan dalam undang undang 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum.
Kegiatan itu dilakukan untuk menyiapkan para saksi yang akan ditempatkan di Tempat Pemungutan Suara (TPS). “Kita juga menghadirkan narasumber dalam kegiatan ini.” jelasnya.

Sementara itu, Narasumber Komisioner KPU Kota Probolinggo Divisi Teknis Penyelenggaraan, Upik Raudlatul Hasanah, menekankan pentingnya kehadiran saksi di dalam proses pemungutan dan penghitungan suara pada pemilihan umum serentak. “Saksi harus datang di awal karena saksi akan menjadi bagian dari Sirekap dan datanya akan dimasukan pada Sirekap. Jika Sirekap sudah ditutup, maka data saksi sudah bisa ditambahkan datanya,” ungkapnya.

Upik juga menyampaikan,saksi pemilu memiliki peran sentral dalam memastikan integritas, transparansi, dan keabsahan seluruh proses pemilu. Oleh karenanya, pelatihan saksi menjadi hal yang penting untuk membekali para saksi dengan pengetahuan, keterampilan dan pemahaman yanng efektif untuk melaksanakan tugasnya pada saat proses pemungutan suara di TPS.

“ Penguatan pemahaman dan pemberdayaan saksi ToT ini pada akhirnya diharapkan agar saksi dapat memberikan keterangan bila terjadi perselisihan pada proses pemilu, mampu mengidentifikasi resiko pada saat pemungutan dan penghitungan suara serta menguatkan mental dan emosional para saksi mengenai kemungkinan resiko yang akan mereka hadapi di lapangan nanti,” jelasnya. (Choy)